Uun, Awalnya Bermodal Rp 20.000

produksi_kaosAwalnya, Uun Ainurrofiq hanya melihat tetangga-tetangganya mengerjakan pesanan cendera mata dan sablon kaus. Dayeuhkolot, Bandung, tempat Uun tinggal, memang dipadati pelaku usaha kecil menengah (UKM). Di kampus, ternyata pesanan produk-produk itu tak kalah banyak. “Menjelang penerimaan mahasiswa baru, misalnya, banyak teman yang memesan baju atau seragam,” katanya.

Dari situ Uun melihat peluang bisnis. Mahasiswa Fakultas Elektro dan Komunikasi Institut Teknologi Telkom Bandung itu pun mengumpulkan empat temannya. Mereka menggagas pembuatan produk, memberdayakan pelaku UKM di sekitar kos.

“Suatu hari, pertengahan 2008, kami mengumpulkan uang. Hanya terkumpul Rp 20.000. Lupa, siapa bayar berapa. Malah, ada yang enggak menyumbang,” ujarnya. Malam itu juga, modal awal itu langsung dipakai mencetak pamflet untuk ditempel di kampus.

“Saya langsung ke rental komputer. Soalnya, di antara kami tak ada yang punya komputer dan printer,” kenang Uun seraya tersenyum. Esok paginya, pamflet ditempel. Setelah tiga hari, baru pesanan pertama datang berupa order kaus. Itu awal terbentuknya Calisto Corporation. 100 potong

Uun sebagai pendiri usaha itu menuturkan, awalnya jumlah pesanan hanya sekitar 100 potong per bulan. Kini, Calisto Corporation terus berkembang dengan produktivitas hingga 1.000 potong per bulan. Produk pun kian bervariasi, bukan hanya kaus.

“Sekarang, kami juga menerima pesanan mug, gantungan kunci, kartu tanda pengenal, pin, dan jam dinding dengan logo pesanan konsumen,” katanya. Harga kaus, misalnya, mulai Rp 30.000, jaket mulai Rp 80.000, mug mulai Rp 19.000, dan pin mulai Rp 2.000.

Pangsa pasar yang sebelumnya kalangan mahasiswa pun sudah meluas. Kini, Uun juga mengerjakan pesanan korporat. Dua pegawai direkrut untuk membantu menjalankan usaha. Setelah membentuk Calisto Corporation, Uun dan teman-temannya tak langsung membagi profit.

Setelah lebih dari setahun, untung baru dibagikan. Sebelumnya, uang diputar lagi, misalnya untuk membeli komputer, membiayai sewa tempat bekerja, dan biaya listrik. Tempat usaha itu terletak di Jalan Sukabirus 75A, Bandung.

Mutu produk tetap diperhatikan dengan mengawasi kualitasnya. Bahkan, jika perlu Uun mengadakan perjanjian dengan pelaku UKM. “Tenggat waktu pengantaran produk ditentukan. Kalau rusak, produk bisa dikembalikan,” ujarnya.

Uun memilih melakukan pekerjaan itu karena sudah terbiasa ditugaskan memesan kaus kepada penyablon saat menjadi panitia beberapa kegiatan semasa belajar di SMAN 8 Yogyakarta. “Kalau ditanya alasan menekuni pekerjaan ini, ya, hobi saja,” kata mahasiswa angkatan 2007 yang juga mengajar bahasa Inggris itu.[]

___________

sumber artikel: Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s