Jezzy, Produknya Digemari Orang Asing

Muda bukan berarti berfoya-foya. Itulah prinsip hidup Jessica Febiani. Jezzy, begitu sapaan akrabnya, sejak duduk di kelas dua SMP sudah banyak berkarya. Dia memperlihatkan kepiawaiannya dalam menulis, melukis, dan mendesain busana secara autodidak. Kepintaran yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa itu tak disia-siakan oleh Jezzy, apalagi dukungan keluarga sangat tinggi.

busana-busanaJadilah Jezzy muda, ketika duduk di SMPN 17 Denpasar, Bali, menulis artikel untuk majalah dinding, koran, dan majalah terbitan setempat. Di majalah dinding, dia bahkan menjadi pemimpin redaksinya. Dia juga melukis alam dan bunga.

Suatu ketika, gejolak jiwanya ingin mendesain busana, maka muncullah dalam pikirannya sebuah nama Moretosee (terjemahan kasarnya banyak yang dilihat). Nama tersebut sebagai cikal bakal dari perusahaannya yang kini berkembang pesat.

“Mula-mula saya mendesain baju untuk remaja. Kebetulan saya juga suka mode dan tampil modis. Ternyata rancangan saya disukai teman-teman,” ujar dara kelahiran Denpasar, 20 Februari 1989, ini.

Sambil belajar dan aktif menulis di majalah dan koran, Jezzy pun mendesain baju berdasarkan order dari temannya. Dia pun mempunyai tukang jahit beberapa orang. Agar bisa lebih berkembang lagi, Jezzy pun meneruskan SMA-nya di Bandung, mengingat Kota Kembang ini banyak pilihan bahan tekstil dan kulit, serta juga banyak desainer.

Ketika duduk di SMA itu pula, Jezzy memberanikan diri membuka toko busana, selain menjual produknya online store di internet. “Saya makin serius menjalani bisnis busana, tas, dan sepatu. Ketika tiba di Bandung, saya mulai dulu dengan mendesain tas. Ternyata respons dari masyarakat cukup besar, tas-tas rancangan saya banyak peminatnya,” ujar Jezzy yang saat ini kuliah di Universitas Bina Nusantara Jakarta.

Dengan semangat menggebu-gebu, Jezzy juga membuat sepatu. Produk unggulannya untuk sepatu adalah angkle boots, sepatu boot semata kaki dari bahan swead, atau bahan kulit dibalik, sepatu kulit, dan sepatu pesta.

Rancangan busananya lebih mengarah untuk kaum perempuan muda yang ingin tampil modis dan suka bergaya. Sasaran bisnisnya adalah perempuan usia 14 tahun-27 tahun. Model busana yang dibuatnya lebih berpotongan simple, kasual berupa kemeja, baju terusan (dress), dan blus serta rok dan jaket yang bisa dipadu-padankan.

Jezzy tak pernah mengira kalau produk busana rancangannya akan disukai banyak orang, bahkan sampai ke luar negeri. Pelan-pelan tetapi pasti, produk tasnya banyak dipesan oleh masyarakat di Australia, sepatu boot-nya disukai oleh warga Belanda, sementara baju-bajunya disukai oleh orang Malaysia. Adapun, pasar dalam negeri juga cukup besar.

Saat ini, Jezzy sudah memiliki sedikitnya 150 pekerja, mulai dari penjahit, pembuat pola, bagian finishing, dan pemasaran. Kapasitas produksinya juga tak tanggung-tanggung, sampai 450 potong, mulai dari sepatu, tas, dan baju. Harga jualnya juga relatif berkisar Rp90.000-Rp300.000.

Jezzy juga mengembangkan tokonya di beberapa daerah, seperti Jakarta, Yogya, Bandung, Semarang, Surabaya, Pontianak, Medan, dan Bali. Untuk pasar luar negeri, dia punya distributor tetap di Malaysia, Australia, Belanda, Jerman, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Dalam usia tergolong muda, Jezzy sudah bisa mengelola usahanya. Semua dipelajarinya secara autodidak dan banyak membaca buku tentang pemasaran dan produksi.

Menurut dia, penjualannya dalam 1 bulan dari semua tokonya bisa mencapai Rp60 juta. Itu belum termasuk order dari distributornya di luar negeri. Untuk menjalani usahanya yang sedang dalam proses pembuatan hak paten dan PT ini, Jezzy kini mempekerjakan beberapa orang profesional di bidang produksi dan marketing. “Tapi untuk desainnya tetap saya yang menentukan,” cetusnya.

Untuk lebih memperkenalkan lagi produksinya ke masyarakat luar, dia juga sering ikut pameran di dalam negeri. Awal tahun ini Jezzy dengan label Moretosee Boutique juga mengadakan fashion show tunggal di Blezza, Permata Hijau, Jakarta.

Dia mengatakan peluang bisnis busana dan aksesori ini masih terbuka luas, apalagi kalau bisa bermain di pasar luar negeri. Untuk konsumen lokal saja, katanya, masih besar pasarnya. Sekarang bergantung pada kreativitas desainer, mau menampilkan model apa, mau mengambil segmen pasar yang mana.

“Terpenting fokus dan terus berinovasi, sehingga tidak bisa ditiru orang. Ketika produk kita ditiru, kita sudah buat lagi yang baru. Begitu terus. Toh pelanggan akan tahu mana produk asli yang bagus, dan mana yang tiruan,” ungkap perempuan yang juga aktif di jaringan pengusaha muda di kampusnya.[]

___________

sumber artikel:

http://ciputraentrepreneurship.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s