Ruffneck, Jeans Lokal dengan Pelanggan dari Mancanegara

Perkembangan produk fashion Indonesia yang memakai bahan denim alias jins, kian marak. Tak sebatas celana panjang dan pendek, atau jaket saja, melainkan sudah amat beragam. Beberapa merek denim lokal bahkan sudah berhasil menembus pasar internasional. Sebut saja Ruffneck Jeans.

Ruffneck_jeansDengan mengusung merek tersebut Adityawarman, mencoba mengambil ceruk pasar yang tersisa dari pasar denim di Indonesia. “Denim lover dan para fashion lover mulai melirik local brand clothing,” jelasnya.

November 2009 merupakan awal munculnya Ruffneck di pasar denim Nusantara. Namun, baru awal 2010 beragam merek denim bermunculan. Hal ini merupakan angin segar. Meski demikian, lanjut Adit, tak ada jalan yang dilalui tanpa kerikil. “Kami juga menemukan beberapa hambatan dalam menjalankan bisnis ini. Hambatan utamanya adalah bagaimana mengedukasi pasar tentang produk kami. Kami ingin pasar cepat menyadari, produk kami bukan produk sembarangan. Meski kecil, tapi memiliki kualitas produk yang bagus yang tidak kalah dengan produk dari luar negeri. Hambatan lainnya, ya, masalah permodalan.”

Adit memulai usahanya dari proyek pribadi. Sekadar coba-coba. “Mulai pemilihan nama, desain, sampai proses produksi, semuanya saya kerjakan sendiri. Dalam perjalanannya saya banyak dibantu rekan-rekan, baik secara langsung maupun tidak.”

“Saya dulu reseller denim dari brand yang sudah mendunia, seperti Nudie, Dior, Homme, April 77, dan beragam Japanese denim. Saya melayani pre-order yang ingin membeli denim luar dan masih sulit diperoleh di Indonesia,” ungkap Adit yang menjalankan usaha itu selama tiga tahun.

Dari seringnya berkecimpung dengan usaha itu, terbetiklah niat untuk memiliki usaha sendiri. Akhirnya, 2 November 2009 Ruffneck lahir. “Nama itu diambil dari bahasa slank Inggris – Amerika yang berarti panggilan untuk preman yang lebih banyak menggunakan otak. Namun, ada juga yang menyebut Ruffneck sebagai arti dari Rough Neck, yang artinya buruh,” beber Adit yang memulai usaha ini dengan modal sekitar Rp 100 juta.

Selama merintis usaha ini, Adit sudah memiliki pelanggan di seluruh Indonesia dan beberapa negara tetangga. Tepat di ulang tahun Ruffneck nanti, Adit akan menambah jenis produknya dengan mulai membuat work shirt dan t-shirt. “Selain itu, kami akan terus bereksplorasi dengan jenis materi denim yang lebih bagus.”

Untuk itu, Adit mengaku semua ide terus mengalir secara alami. “Kami banyak mendapat masukan ide dari melihat. Baik itu dari film, video klip, atau melihat orang yang cara berpakaiannya enak dipandang. Di samping itu, produk kami dipengaruhi oleh merek-merek internasional seperti Dior, Homme, Nudie, Flathead, dan Samurai Jeans.”[]

___________

sumber artikel:

http://ciputraentrepreneurship.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s