Tag Archives: distro

Kunjungi Online Shop Gaban

Kunjungi Onlie Shop Gaban Production

GABANPRODUCTION.MULTIPLY.COM

Banyak tersedia pilihan stok pakaian pria, wanita, dan anak.

Jaket kanvas, jaket denim, jaket sporty, sweater, sweater hoodie,  rompi parasut, jaket motor, kaos sablon, dll. Ready Stock akhir tahun 2011.

Jaket Wanita    Jaket Wanita    Jaket Pria    Jaket Pria

Order mudah, harga murah.

Selamat belanja online!

GABANPRODUCTION.MULTIPLY.COM


Jika anda  ingin memesan produk seperti di atas, silakan hubungi:

Rumah Produksi Gaban 
Phone: 085722720806 | 08122469558 | PIN BB: 288FDCDF
Emailgaban.production@gmail.com
gabanproduction.wordpress.com (blog)
gabanproduction.multiply.com (online shop)

Advertisements

Sukses dengan Konsep Citra

Keterbatasan modal pada awal bukan menjadi penghalang bila suatu bisnis dibangun melalui breakthrough concept sebagai diferensiasi produk di tengah persaingan dunia bisnis, apalagi bagi pemain baru.

kaos_fireboltPemilik Firebolt Co, M. Nur Primadiantho berusaha mendobrak pola yang sudah ada dalam pasar pakaian di Indonesia. Konsep citra memiliki peranan penting dalam pembangunan bisnis kaosnya. “You are what you wear,” kira-kira prinsip itulah yang dipegangnya untuk mengangkat merek kaosnya tersebut.

“Saya jual konsep citra untuk membedakan produk saya dengan T-shirt lain,” ujarnya.

Prima berharap konsumen yang mengenakan kaosnya akan merasa bangga menggunakan produknya dan tertular citra yang terdapat pada kaosnya.

Lalu konsep citra seperti apa yang dibangun Prima pada ‘kaos bertema’-nya demi mengangkat merek produknya? Deretan garis besar tema konsep imej yang ditonjolkan dalam desain kaosnya adalah Firebolt environmental defense, Firebolt life’s like that, Firebolt campaign, Firebolt ultimate gaming series, Firebolt cycling project, Firebolt identity, Firebolt travelling project dan Firebolt technology.

Konsep citra Firebolt environmental defense misalnya, mengusung citra kepedulian terhadap lingkungan seperti dengan tema save the water atau ilustrasi data illegal logging yang tertera pada kaos. Sedangkan Firebolt Campaign memiliki tema-tema yang lebih bersifat humanis, seperti Support Blind People, Seek and Explore Your Mind. Begitu pula dengan tema-tema lain yang ditujukan untuk menggugah kepedulian terhadap lingkungan sekitar oleh kaum muda yang merupakan sasaran pasarnya.

Perusahaan ini, kata Prima, mulanya berawal dari kegelisahan dirinya yang saat itu masih terdaftar sebagai mahasiswa pada 1998. Prima merasa masih memiliki banyak waktu seusai kegiatan kuliahnya. “Kuliah kan hanya memakan waktu tiga sampai empat jam sehari, padahal satu hari sama dengan 24 jam, maka ketertarikan saya pada dunia bisnis berkembang,”ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran ini.

Kegelisahan yang dijalaninya selama dua tahun dijejalinya dengan berbagai impian sambil mengerjakan studi kelayakan dan rencana bisnis dari mimpinya. Baru pada 2000, Prima mulai mengajak dua temannya yang mempunyai visi yang sama untuk membangun bisnis tersebut dengan mengumpulkan dana sebesar Rp50 juta sebagai modal awal perusahaan ini.

Firebolt yang dianalogikan sebagai percikan api yang menyengat ini, memulai rekrutmen pegawai untuk menangani promosi, distribusi dan pemasaran. Sedangkan pengerjaan penjahitan kaos dilaksanakan dengan sistem kontrak vendor terhadap beberapa perusahaan konveksi.

“Sampai saat ini kami bekerja dengan mengoptimalkan team work dan berusaha working smart dengan mengandalkan efisiensi,” kata Prima yang memiliki tim berjumlah 20 orang di kantor pusatnya di Bandung.

Meski demikian perusahaan yang beromzet Rp300 juta per bulan ini sudah memiliki titik distribusi dan karyawan di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Yogyakarta dan Semarang.

“Saat ini kami juga sudah mengerjakan untuk waralaba di beberapa kota, seperti Makassar, Medan, Solo dan Pontianak.”

Kaos Firebolt yang dijual seharga Rp40.000 hingga Rp180.000 per potong ini didukung dengan kegiatan promosi yang mengandalkan sponsorship wardrobe artis, televisi, film dan halaman mode di berbagai majalah. “MTV dan film Biarkan Bintang Menari diantaranya,” papar Prima.

Untuk menarik target pasarnya, Firebolt mendesain khusus tokonya. Bila berkunjung ke toko Firebolt di Bandung, akan terasa sekali atmosfer ‘anak muda’ di dalamnya. Penuh warna dan dipenuhi dengan berbagai tanda yang menunjukkan generasi muda dan seperti kesan aktif dan berbagai poster Firebolt.

Saat ini Firebolt tidak hanya memproduksi kaos, tapi juga tas, topi, sandal, sepatu, jaket, jeans, celana pendek, gelang dan kalung. “Dari jempol kaki sampai ujung rambut dan berhubungan dengan fashion,” jelas Prima.

Perluasan produk Firebolt Co, juga dilakukan pada produk t-shirt-nya. Merek Firebolt yang bertekad membawa pesan kepedulian, diperluas dengan munculnya dua merek baru yang masih di bawah bendera Firebolt Co pula, yaitu Da Chronic dan Chemical Labs.

Da Chronic ditujukan bagi kaum muda yang merupakan pecinta gothic dan metal. Sedangkan Chemical Labs yang didesain khusus untuk perempuan dibuat untuk mendukung perempuan agar menjadi remaja yang independen.

Prima sangat serius dan optimis dengan bisnisnya tersebut. Saat ini Firebolt sudah memiliki ijin perusahaan, paten dan standard operating system untuk melancarkan seluruh kegiatan produksi sampai quality control. Bahkan menurut Prima, dirinya bercita-cita akan mengembangkan Firebolt Co, ke kancah internasional seperti produk-produk Australia yang banyak dikenal di tanah air seperti Billabong dan Kuta Lines.[]

 

___________

sumber artikel:

http://ciputraentrepreneurship.com

Affandi, Sang Juragan Sablon Khusus Distro

Istilah distribution store (Distro) mungkin kini sudah tidak asing lagi di telinga Anda, khususnya di kalangan remaja. Banyak remaja kini cenderung memilih distro sebagai tempat mereka berwisata belanja pakaian, ketimbang di sejumlah toko-toko retail besar kenamaan di negeri ini.

sablonanTerlebih ciri khasnya yang memiliki edisi model dan jumlah kaos terbatas, maka kaos maupun produk distro lainnya makin digemari para muda-mudi. Namun, kini bisa dikatakan harga kaos-kaos distro memang sudah kompetitif dan tidak lagi semurah saat di awal distro ada. Makin banyaknya pebisnis distro ini disinyalir sebagai alasan harga-harga maupun varian produk distro kini makin meningkat.

Merasa harga kaos distro semakin tinggi, seorang lelaki bernama Mohammad Affandi merasa penasaran dan tergerak ingin mencari tahu mengapa harga kaos saja bisa semahal itu. Dia yang pada saat itu bekerja di sebuah distro cukup ternama di Bandung mulai memperhatikan dan tidak malu bertanya kepada rekanannya di sana bagaimana proses pembuatan kaos tersebut. Setelah mengetahuinya, dia pun tergerak ingin mempunyai usaha sendiri.

“Awalnya saya bekerja di sebuah distro di Bandung. Saya melihat kok harga-harga kaos makin mahal saja ya, saya pun jadi tergerak untuk mencari tahu bagaimana prosesnya dan apa benar harga aslinya juga semahal itu. Saya pun bertanya kepada teman saya yang berpengalaman di sana, lama-lama jadi tahu. Dari situ lah saya ingin bergerak punya usaha sendiri,” tutur lelaki yang mengaku tidak menamatkan kuliahnya di jurusan desain grafis, belum lama ini.

Namun, bukan usaha distro lah yang dipilihnya sebagai lahan usahanya, melainkan usaha bagian produksinya yaitu sablonan. Meski usaha sablon, dia tetap memilih sablon khusus pakaian distro yang diproduksinya, bukan sablon spanduk, kaos olahraga, jaket, atau pun kaos-kaos pesanan partai politik.

“Saya memutuskan untuk membuka usaha sablonan ini karena saya hobi mendesain yang sangat erat hubungannya dengan proses sablon dan harus detail. Selain itu, modal usahanya minimalis, kerjaannya juga santai, tapi tetap menguntungkan,” ujarnya.

Mula buka usahanya itu, dia mengaku mengeluarkan modal awal Rp15 juta. Itu pun hanya untuk membeli peralatan sablon seperti cetakan sablon, 400 papan tempat kaos yang akan dicetak, meja sablon, dan perlengkapan lainnya. Sementara untuk kain atau bahan kaos, menurutnya itu sudah masuk ke bagian produksi, sehingga modal untuk bahan dimasukkan ke dalam biaya pemesanan pelanggan.

“Modal awal tersebut saya peroleh dari hasil tabungan saya bekerja di distro sebelumnya dan juga hasil pekerjaan saya yang pernah menjadi agen penyalur pesanan dari pelanggan ke orang-orang sablonan,” ungkap pebisnis sablon sejak dua tahun lalu itu.

Meski modal awal yang dikeluarkan cukup besar, menurutnya itu berlaku dan bermanfaat untuk jangka panjang. Buktinya, katanya, sampai saat ini dia masih menggunakan peralatan yang dia beli di awal tersebut.

Bahkan, dia mengatakan sejak setahun lalu dia sudah menambah satu mesin press (mesin cetak) seharga Rp14 juta. Sebelum memiliki mesin cetak tersebut, dia mengaku menitipkan ke sablonan lain yang memiliki mesin cetak tersebut.

“Sebenarnya dua sampai tiga bulan mula bisnis, itu (mesin press) sudah bisa dibeli, tapi masih ada kebutuhan-kebutuhan yang lebih penting lainnya,” tukasnya.

Dia mengatakan, dari usahanya itu dia bisa memperoleh omzet Rp40 juta per bulan dengan laba sekira 25 persennya atau sekira Rp10 juta. Penghasilan tersebut berasal dari pemesanan sekira 2.000 lembar (pieces) kaos tiap bulannya. Tapi bila pemesanan sedang ramai, khususnya saat jelang Ramadhan, libur sekolah, dan akhir tahun, maka produksi bisa mencapai 6.000 kaos.

“Bila Ramadan, omzet bisa naik tiga kali lipat dan laba bisa mencapai Rp40 juta. Itu dari pemesanan 6.000 pieces (full order),” ungkapnya.

Meski berlokasi di Bandung, tapi menurutnya banyak pemesanan justru datang dari luar Bandung, yakni dari Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Alasannya, karena distro-distro di Bandung biasanya sudah memiliki usaha produksi atau sablonan sendiri.

Kini, usaha sablonan itu telah mempekerjakan 15 orang, bertambah dari awal usaha yang hanya memiliki delapan orang karyawan. Untuk mengembangkan bisnis sablonannya itu, menurutnya tidak terlepas dari prinsip kepercayaannya kepada pelanggan. Selain itu, jujur, tepat waktu, dan tetap menjaga kualitas produk harus tetap dikedepankan. “Kita harus menjaga kualitas dan memberikan excellent service (servis terbaik) kepada pelanggan, dan tentunya saling percaya,” imbuhnya.

Kendati demikian, bukan berarti usahanya itu tidak mengalami satu pun kendala. Kendala, menurutnya pasti ada, seperti dalam mencari bahan.

Karena menurutnya di pabrik itu belum tentu selalu tersedia stok warna bahan yang dia butuhkan. Solusinya, dia harus bisa mengakali mencari jenis warna bahan yang tidak begitu jauh dari tipe warna yang dia butuhkan.

“Kalau dari pembayaran pemesanan, Alhamdulillah tidak pernah (ada kendala). Karena di antara kami juga ada kesepakatan akan adanya sistem pembayaran mundur.

Misalnya, produksi selesai 1 Agustus, maka pelunasannya bisa satu bulan setelah itu,” tuturnya.

Selain menerima desain orang lain dan memproduksinya, ternyata usaha sablonan Affandi ini juga memproduksi kaos merek dan desainnya sendiri. Ilmu yang diperolehnya sewaktu masa kuliah di jurusan desain grafis ternyata tidak disia-siakannya. Dia pun memiliki dua merk desainnya, yaitu Mellow dan Littlecake.

“Kalau produksi merk kaos sendiri sih tidak banyak, proporsinya paling hanya sekitar 20 persen dari total produksi. Itu juga kalau ada sisa-sisa bahan kaos yang sudah tidak terpakai lagi,” ujarnya.

Menurutnya, dari bahan sisa pemesanan pelanggannya itu bisa dia manfaatkan untuk mengolahnya lagi menjadi kaos mereknya itu. Dia pun menjual seharga Rp80 ribu untuk kaos hasil desainnya itu. “Itu dijual Rp80 ribu, tapi kan limited edition (edisi terbatas),” tukasnya.

Ternyata kaos desainnya itu juga banyak peminatnya. Meski dia hanya mempromosikannya dari mulut ke mulut atau dari internet, seperti facebook, ternyata animo teman-temannya cukup baik. Dia pun banyak memperoleh pesanan kaos desainnya itu. “Ya, lumayan juga ternyata peminatnya,” imbuhnya.

Selain diproduksi menjadi kaos desain sendiri, ternyata sisa-sisa bahan produksi itu juga masih bernilai ekonomis. Pasalnya, sisa-sisa bahan menurutnya terkadang juga dibeli penadah kain bekas yang biasa mereka olah lagi menjadi jok kursi dan sebagainya. Sisa kain bekas itu bisa dihargai Rp8 ribu per kg.

“Lumayan juga hasilnya, yang tadinya cuma kain bekas dan tidak bisa diapa-apakan lagi, ternyata masih bisa menghasilkan uang lagi,” pungkasnya.[]

___________

sumber artikel:

http://okezone.com